Nama
Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar bin Muhammad bin Ibrahim, yang nasabnya bersambung kepada Ja‘far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Al-Hasyimi.
Artinya, beliau termasuk keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu melalui jalur Husain bin Ali, sehingga termasuk ahlul bait.
Nisbah
Disebut Ath-Thabari, yaitu nisbah kepada daerah Thabaristan. Beliau juga dinisbahkan sebagai Asy-Syafi‘i, karena mengikuti mazhab Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‘i dan sangat mendalam serta menguasai mazhab tersebut.
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
الشيخ محب الدين الطبري المكي الشافعي
“Syekh Muhibuddin Ath-Thabari Al-Makki Asy-Syafi‘i.”
Al-Hafizh As-Suyuthi rahimahullah berkata,
المحب الطبري… فقيه الحرم… المكي الشافعي
“Al-Muhibb Ath-Thabari… Faqih (ahli fikih) Haram… Al-Makki Asy-Syafi‘i.”
Beliau juga dinisbahkan sebagai Al-Makki, karena dilahirkan di Makkah dan tumbuh besar di sana. Nisbah ini disebutkan oleh Ibnu Katsir, As-Suyuthi, dan selain keduanya.
Nama kun-yah
Beliau dikenal dengan kun-yah Abu Al-Abbas. Hal ini disepakati oleh mayoritas ulama yang menulis biografinya, seperti: Adz-Dzahabi, Al-Yafi‘i, As-Subki, As-Suyuthi, dan Ibnu Al-‘Imad.
Taqiyuddin Al-Fasi menambahkan kun-yah lain, yaitu Abu Ja‘far. Dalam kitab Al-‘Aqd Ats-Tsamin, ia berkata,
يكنى: أبا جعفر، وأبا العباس
“Beliau dijuluki Abu Ja‘far dan Abu Al-Abbas.”
Julukan
Imam Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar memiliki banyak gelar. Sebagian gelar tersebut berkaitan dengan kedudukan ilmiahnya dan keluasan ilmunya dalam bidang agama, seperti:
- Syekh Al-Haram شيخ الحرم (Guru besar Masjidil Haram), sebagaimana disebutkan oleh Al-Yafi‘i, Ibnu Al-‘Imad Al-Hanbali, dan As-Subki.
- Bahkan As-Subki menambahkan: حافظ الحجاز بِلَا مدافعة “Hafizh Hijaz tanpa ada yang menandinginya.”
- Adz-Dzahabi dan As-Suyuthi menyebutnya sebagai:
- Faqih Al-Haram فقيه الحرم (Ahli fikih Masjidil Haram)
- Muhaddits Al-Hijaz محدث الحجاز (Ahli hadis wilayah Hijaz)
- Syekh Asy-Syafi‘iyyah شيخ الشافعية (Tokoh ulama mazhab Syafi‘i)
Sebagian gelar lainnya berkaitan dengan kecintaannya kepada Ahlul Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana tidak, sementara beliau memang termasuk keturunan mereka, dari jalur Husain bin Ali Al-Hasyimi radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana telah disebutkan.
Hal ini tampak pada nama-nama dalam keluarganya, seperti: Muhammad, Ahmad, Hasan, Husain, dan nama-nama wanita seperti: Aisyah, Zainab, dan Fatimah.
Begitu pula gelar-gelar seperti, Ar-Radhi (الرضي), Al-Muhibb (المحب), atau Muhibbuddin (محب الدين).
Gelar “Muhibbuddin” ini sering muncul pada ayah dan kakek-kakeknya, dan juga pada keturunan setelahnya.
Julukan yang beliau tidak sukai
Al-Muhibb Ath-Thabari memiliki satu gelar lain yang tidak ia sukai, yaitu “Muhyiddin” (محيي الدين) (penghidup agama).
Taqiyuddin Al-Fasi rahimahullah berkata,
وكان الشيخ محب الدين الطبري يُلقَّب بمحيي الدين قبل أن يلقب بمحب الدين، وكان يكرَه اللقب الأول، فزار المدينة النبوية، ومدح النبي صلى الله عليه وسلم بقصيدة، وسأل أن تكون جائزته عليها أن يزول عنه اللقب الأول، فزال حتى كأن لم يكن
“Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari dahulu dijuluki “Muhyiddin” sebelum kemudian dikenal dengan julukan “Muhibbuddin”. Namun beliau tidak menyukai julukan yang pertama.
Suatu ketika, beliau mengunjungi Madinah An-Nabawiyah, lalu memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebuah qasidah (syair pujian). Beliau memohon agar balasan atas qasidah tersebut adalah dihilangkannya julukan pertamanya. Maka julukan itu pun hilang, seakan-akan tidak pernah ada.”
Kelahiran dan pertumbuhan
Pendapat yang paling kuat dan dipegang oleh mayoritas sejarawan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Al-‘Imad dalam kitab Syadzarat adz-Dzahab adalah bahwa beliau dilahirkan pada tanggal 27 Jumadil akhir tahun 615 Hijriah. Tanggal ini juga tercatat pada halaman judul manuskrip jilid pertama dalam naskah yang tersimpan di perpustakaan Köprülü di Turki.
Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari tumbuh dalam keluarga yang memiliki ilmu, kemuliaan nasab, kedudukan sosial, dan kepemimpinan. Ayahnya, paman-pamannya, dan generasi setelah mereka memegang berbagai jabatan penting di kota suci Makkah, seperti qadhi, ulama, pengajar, khatib, mufti, dan imam. Hal ini merupakan sebuah keutamaan besar bagi keluarga Ath-Thabari. Semoga Allah meridai mereka dan membalas mereka dengan sebaik-baik balasan atas jasa mereka terhadap Islam dan kaum muslimin.
Perjalanan menuntut ilmu
Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari tumbuh dalam lingkungan ilmiah yang sangat mendukung, baik karena berasal dari keluarga ulama terkemuka di Makkah maupun karena kedekatannya dengan pusat ilmu di Tanah Haram. Ia mempelajari berbagai kitab hadis dan fikih, termasuk Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i, Jami‘ At-Tirmidzi, serta Shahih Ibnu Hibban, kepada sejumlah ulama besar di Makkah. Ia juga memperoleh ijazah dari para ulama di Baghdad, Syam, dan Mesir, serta memperdalam fikih di Mesir kepada Majduddin Al-Qusyairi. Di Yaman, ia dikenal sebagai pengajar terkemuka dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Raja Al-Muzaffar, yang bahkan memberinya tunjangan tetap untuk mengajar di madrasah keluarganya di Makkah.
Guru-guru
Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari menimba ilmu dari para ulama besar Hijaz pada masanya, serta dari para ulama yang datang ke Makkah saat musim haji dan umrah. Di antara guru-gurunya yang paling terkenal adalah Abu Al-Hasan Ali bin Al-Muqayyir, darinya ia mempelajari Sunan Abu Dawud dan kitab-kitab lainnya; Taqiyuddin Ali bin Abi Bakar Ath-Thabari, Imam Maqam dan khatib Masjidil Haram; Abdurrahman bin Abi Harami Al-Makki; Syarafuddin Al-Mursi; Bahauddin Ibnu Al-Jummayzi; Syu‘aib bin Yahya Al-Iskandarani; Najmuddin Basyir Al-Qurasyi; serta ulama besar Ibnu Al-‘Adim Al-Halabi. Mereka adalah tokoh-tokoh terkemuka dalam hadis, fikih, dan ilmu-ilmu agama, dan melalui merekalah Al-Muhibb Ath-Thabari memperoleh sanad, ijazah, serta keluasan ilmu yang mengantarkannya menjadi salah satu ulama besar di Hijaz.
Murid-murid
Sebagaimana kebiasaan para ulama yang mengamalkan ilmunya, Imam Al-Muhibb Ath-Thabari aktif berdakwah melalui berbagai jalur seperti khatib, pengajar, mufti, qadhi, dan imam di Masjidil Haram. Dari majelis ilmunya, lahir banyak ulama besar yang kemudian menjadi tokoh penting di berbagai negeri. Di antara murid-muridnya adalah putranya sendiri, Jamaluddin Muhammad bin Ahmad, yang menjadi Qadhi Makkah; Al-Hafizh Syarafuddin Ad-Dimyathi; Alauddin Al-‘Aththar Ad-Dimasyqi; Al-Hafizh Al-Barzali, sejarawan besar Syam; Quthbuddin Al-Qasthalani; pakar tafsir dan nahwu terkenal Abu Hayyan Al-Andalusi; serta Ibnu Al-Khabbaz Al-Anshari yang menjadi guru bagi ulama besar seperti Al-Mizzi dan Adz-Dzahabi. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh ilmiah Al-Muhibb Ath-Thabari meluas dan berlanjut melalui generasi-generasi ulama setelahnya.
Pujian para ulama terhadapnya
Imam Al-Muhibb Ath-Thabari رحمه الله mendapatkan penerimaan yang luas di tengah masyarakat, baik dari kalangan ulama maupun orang awam. Itu merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Beliau memperoleh penghormatan, pengagungan, dan pujian yang baik. Pujian semacam ini tidak diragukan lagi merupakan tanda kesalehan dan ketakwaan, sekaligus bukti keluasan ilmu dan ketajaman pemahaman.
Al-Muhibb Ath-Thabari menggabungkan antara ibadah dan ilmu. Beliau hampir tidak pernah terlihat kecuali dalam keadaan menuntut atau mengajarkan ilmu, atau dalam ibadah.
Abu Al-Yumn Ibnu ‘Asakir berkata,
لم أرَ المحبَّ في وقت من الأوقات إلا في عملٍ من صلاةٍ أو طوافٍ أو دعاءٍ أو تعليمِ علمٍ أو تصنيفهِ، أو نحو هذا
“Aku tidak pernah melihat Al-Muhibb pada suatu waktu pun kecuali sedang melakukan suatu amal, seperti salat, thawaf, berdoa, mengajar ilmu, atau menulis (mengarang), dan semisalnya.”
Inilah ciri orang-orang saleh dan kebiasaan para penempuh jalan menuju Allah dengan keikhlasan dan ilmu.
Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,
كان عالمًا عاملًا جليل القدر، عارفًا بالآثار، ومَن نظر في أحكامه عرَف مَحَلَّه مِن العلم والفقه
“Beliau adalah seorang alim yang mengamalkan ilmunya, memiliki kedudukan tinggi, menguasai atsar (hadis), dan siapa yang menelaah fatwa-fatwanya akan mengetahui kedudukannya dalam ilmu dan fikih.”
Adz-Dzahabi rahimahullah juga berkata,
وكان إمامًا صالحًا زاهدًا كبير الشأن
“Beliau adalah seorang imam yang saleh, zuhud, dan memiliki kedudukan besar.”
Tajuddin As-Subki berkata,
شيخ الحرم، وحافظ الحجاز بلا مدافعة
“Syekh Al-Haram dan Hafizh Hijaz tanpa ada yang menandinginya.”
Al-Yafi‘i berkata,
شيخ الحرم الإمام العلَّامة الحافظ ذو التصانيف الكثيرة والفضائل الشهيرة
“Syekh Al-Haram, imam, ulama besar, hafizh, pemilik banyak karya dan keutamaan yang masyhur.”
Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
كان فقيهًا، بارعًا، محدثًا، حافظًا، درَّس وأفتى، وكان شيخ الشافعية هناك، ومحدِّث الحجاز في زمانه
“Beliau seorang fakih yang unggul, muhaddits, hafizh, mengajar dan berfatwa, menjadi Syekh mazhab Syafi‘i di sana, serta muhaddits Hijaz pada zamannya.”
Taqiyuddin Al-Fasi menukil perkataan Al-Hafizh Al-‘Ala’i,
ما أخرجَتْ مكةُ بعد الشافعي مثلَ المحب الطبري)
“Makkah tidak pernah melahirkan setelah Imam Asy-Syafi‘i seorang seperti Al-Muhibb Ath-Thabari.”
Namun ia menambahkan bahwa pernyataan tersebut masih bisa diperdebatkan. Kemudian ia berkata,
ووجدتُ بخط القطب الحلبي في ترجمة المحب الطبري: أنه لم يكن في زمانه مثلُه.
“Aku menemukan tulisan Al-Quthb Al-Halabi dalam biografi Al-Muhibb Ath-Thabari bahwa pada zamannya, tidak ada yang sebanding dengannya.”
Dan ia menegaskan,
وهذا مما لا ريبَ فيه
“Hal ini tidak diragukan lagi.”
Keluasan ilmu Al-Muhibb Ath-Thabari tidak terbatas pada fikih, hadis, atau tafsir saja. Ia juga seorang ahli bahasa dan penyair yang fasih.
Imam Taqiyuddin Al-Fasi berkata,
وللشيخ محب الدين شعرٌ كثيرٌ جيد، يحويه ديوانه، وهي مجلدة لطيفة على ما رأيت
“Syekh Muhibbuddin memiliki banyak syair yang bagus, yang terkumpul dalam diwan (kumpulan puisi)-nya, sebuah jilid yang indah sebagaimana yang aku lihat.”
Demikian pula Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan,
وله شِعرٌ جيد؛ فمنه قصيدته في المنازل التي بين مكة والمدينة تزيد على ثلاثمائة بيتٍ، كتبها عنه الحافظ شرف الدين الدمياطي في معجمه
“Beliau memiliki syair yang bagus; di antaranya qasidahnya tentang tempat-tempat antara Makkah dan Madinah yang mencapai lebih dari tiga ratus bait. Qasidah itu ditulis oleh Al-Hafizh Syarafuddin Ad-Dimyathi dalam Mu‘jam-nya.”
Akidah
Pada dasarnya, apabila para penulis biografi tidak menyebutkan secara khusus tentang mazhab akidah seseorang yang mereka tulis, maka hal itu biasanya menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki perjalanan hidup yang lurus dan akidah yang benar, sebagaimana mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Dari penelaahan terhadap kitab yang menjadi objek kajian ini, yaitu karya-karya Imam Al-Muhibb Ath-Thabari رحمه الله, tampak jelas bagi siapa pun yang memperhatikannya bahwa beliau adalah seorang tokoh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau adalah Imam Masjidil Haram, Qadhi Makkah, Syekh Hijaz, dan tokoh mazhab Syafi‘i pada zamannya.
Hal ini dapat disimpulkan dari perkataan-perkataannya dalam kitabnya, dari kuatnya kecintaan beliau terhadap agamanya, serta dari pembelaannya terhadap manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau juga menampilkan dan mengkritisi berbagai pandangan yang menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah dalam persoalan akidah dan iman, serta membantahnya dengan dalil dan hujjah yang jelas.
Mazhab fikih
Imam Tajuddin As-Subki dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyah Al-Kubra dan Ibnu Katsir dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyin, serta yang lainnya, menyebutkan bahwa beliau bermazhab Syafi‘i. Bahkan, beliau merupakan imam (tokoh utama) mazhab Syafi‘i pada zamannya.
Imam Al-‘Ala’i rahimahullah berkata,
ما أخرجَت مكة بعد الشافعي مثلَ المحب الطبري
“Makkah tidak pernah melahirkan setelah Imam Asy-Syafi‘i seorang seperti Al-Muhibb Ath-Thabari.”
Wafat
Pendapat yang paling kuat menyatakan bahwa beliau wafat pada bulan Jumadil akhir tahun 694 Hijriah di Makkah Al-Mukarramah. Pendapat ini disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Mu‘jam Al-Mukhtash bil Muhadditsin, Ibnu Katsir dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyin, serta Ibnu Al-‘Imad dalam Syadzarat Adz-Dzahab, dan juga oleh para ulama lainnya.
Semoga Allah merahmatinya, meridainya, dan membalasnya dengan sebaik-baik balasan atas jasa-jasanya kepada Islam dan kaum muslimin.
Baca juga: Biografi Imam Ahmad bin Hanbal
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari website alukah.net.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.